Christ In Me, Hope For The Future (Filipi 1:27) - Pdt. Refamati Gulo, M.Th.
Pengantar
Saudara-saudara yang
terkasih di dalam Tuhan, kita hidup di zaman yang penuh peluang, tetapi juga penuh
tekanan.
Dunia berkata bahwa masa depan yang cerah ditentukan oleh nilai
akademik,
pekerjaan yang mapan, penghasilan
besar,
atau seberapa banyak orang mengenal kita. Media sosial menampilkan
standar hidup yang terlihat sempurna, seolah-olah semua orang sudah tahu arah
hidupnya. Jika kita melihat realitas, banyak pemuda Kristen justru hidup dalam
kebingungan dan kecemasan. Masa depan dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan,
merasa bingung, takut
gagal,
takut tidak berhasil takut tidak memenuhi harapan
orang lain dan cemas menghadapi hari esok. Kristus dikenal sebagai
Tuhan yang disembah pada hari Minggu, tetapi belum sepenuhnya dihidupi dalam pergumulan
sehari-hari. Akibatnya, ketika menghadapi tekanan hidup, iman menjadi rapuh dan
pengharapan mudah goyah.
Mungkin kita rajin ke
gereja, ikut pelayanan, bahkan aktif dalam kegiatan rohani. Tetapi saat
sendirian, kita bertanya: “Siapa saya sebenarnya?”, “Apakah
hidup saya berarti?”, dan “Bagaimana jika masa depan
saya
tidak seperti yang saya harapkan?” Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa
banyak pemuda sedang mengalami krisis harapan.
Firman Tuhan dalam Kolose
1:27 berkata, “Kristus ada di dalam kamu, Dialah pengharapan akan kemuliaan.”
Kristus hidup di dalam setiap orang percaya dan menjadi pengharapan akan
kemuliaan. Artinya, pemuda Kristen seharusnya hidup dengan identitas yang kuat,
iman yang teguh, dan pengharapan yang jelas akan masa depan. Kehadiran Kristus
di dalam diri mereka seharusnya memengaruhi cara berpikir, cara mengambil
keputusan, dan cara memandang tantangan hidup. Dalam rencana Tuhan, pemuda
bukanlah generasi yang hidup dalam ketakutan, tetapi generasi yang melangkah
dengan keyakinan karena masa depan mereka ada di dalam Kristus. Paulus tidak
berkata bahwa harapan kita ada pada keadaan, pada manusia, atau pada
kemampuan diri. Harapan kita adalah Kristus yang hidup di dalam kita.
Artinya, masa depan kita tidak ditentukan oleh seberapa kuat kita, tetapi oleh
siapa yang tinggal di dalam hidup kita.
Mengutip ungkapan Paus Gregory, Yuval
Harari berpandangan bahwa Tuhan adalah sumber tertinggi seni dan keindahan.[1]
Tuhan tidak sekadar menjadi puncak dari seni dan keindahan, tetapi merupakan
asal dari seluruh sumber yang ada, baik yang tampak maupun yang tersembunyi,
termasuk sumber kehidupan manusia itu sendiri.[2]
Orang percaya dipanggil untuk menjalani kehidupan yang terus bertumbuh di dalam
Kristus, yakni menjadi semakin kuat dalam iman sehingga tidak mudah tergoyahkan
oleh berbagai tantangan dan cobaan yang menghadang.[3]
Alkitab merupakan pedoman tertulis tertinggi bagi orang percaya, yang menjadi
dasar dalam membangun pemahaman iman serta menjalani kehidupan sehari-hari. Di
dalamnya juga dibahas berbagai aspek kehidupan orang percaya yang berupaya
menyelaraskan diri dengan kehendak Allah.[4]
Masalahnya, banyak pemuda
Kristen mengenal Kristus hanya sebagai Juruselamat yang jauh, bukan sebagai
Tuhan yang hidup dan bekerja setiap hari. Iman sering kali menjadi rutinitas,
bukan relasi. Akibatnya, ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, ketika
gagal, ditolak, atau kecewa, kita mudah putus asa. Kita lupa bahwa Kristus yang
sama yang menyelamatkan kita, juga berjalan bersama kita menuju masa depan.
Krisis identitas juga
menjadi pergumulan besar pemuda. Kita sering menilai diri berdasarkan prestasi,
penampilan, atau pengakuan orang lain. Ketika gagal, kita merasa tidak
berharga. Padahal, nilai hidup kita tidak ditentukan oleh apa yang kita capai,
tetapi oleh siapa yang hidup di dalam kita. Jika Kristus ada di dalam kita,
maka hidup kita memiliki nilai, tujuan, dan pengharapan yang tidak bisa
direnggut oleh keadaan apa pun.
Dari kondisi ini, kita
melihat bahwa ada jarak antara Kristus yang seharusnya hidup
di dalam pemuda dan cara pemuda menjalani hidupnya. Seharusnya, Kristus
ada di dalam mereka, tetapi pada prakteknya, banyak pemuda masih mengandalkan
kekuatan diri, logika manusia, dan standar dunia. Identitas dibangun dari
prestasi dan pengakuan, bukan dari kebenaran firman Tuhan. Ketika standar itu
runtuh, harapan pun ikut runtuh. Lebih jauh lagi, dunia terus menawarkan
definisi masa depan yang bertolak belakang dengan kehendak Tuhan. Kesuksesan
diukur dari materi, posisi, dan popularitas. Tanpa disadari, pemuda Kristen
mulai mengejar hal-hal tersebut sebagai sumber harapan, sementara Kristus hanya
menjadi pelengkap rohani. Di sinilah gap itu semakin lebar: Kristus ada di
dalam, tetapi tidak menjadi pusat hidup.
Christ In Me, Hope For The
Future hadir
untuk memberikan jembatan bagi kita semua. Pemuda perlu kembali menyadari bahwa
pengharapan sejati tidak datang dari apa yang mereka miliki atau capai, tetapi
dari siapa yang hidup di dalam mereka. Ketika Kristus sungguh menjadi pusat
hidup, pemuda dapat menghadapi ketidakpastian dengan iman, menjalani proses
dengan kesabaran, dan memandang masa depan dengan pengharapan yang teguh.
Istilah Christ in You (Kristus
di dalam kamu) merupakan salah satu ungkapan penting dalam Perjanjian Baru yang
menggambarkan kehadiran Kristus dalam diri orang percaya melalui karya Roh
Kudus. Kehadiran Kristus tersebut membangun relasi yang intim dan mendalam
antara Kristus dan orang percaya, yang pada akhirnya membawa transformasi dalam
berbagai aspek kehidupan. Ungkapan Christ in You secara eksplisit dinyatakan
dalam Kolose 1:27: “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan
mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di
tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan” (TB).
Ayat ini menegaskan bahwa kehadiran Kristus dalam diri orang percaya merupakan suatu
rahasia besar yang dinyatakan kepada bangsa-bangsa non-Yahudi dan menjadi
sumber pengharapan akan kemuliaan kekal. Secara teologis, konsep Christ
in You juga ditemukan dalam surat-surat Rasul Paulus serta Rasul Yohanes
dalam Perjanjian Baru, yaitu:
1.
2 Korintus 5:17, ungkapan “ciptaan
baru” menunjuk pada identitas baru orang percaya di dalam Kristus.
Inilah inti dari kehidupan Kristen yang sejati, yakni Kristus yang hidup di
dalam diri orang percaya memberikan identitas baru sekaligus kekuatan untuk
hidup selaras dengan kehendak Allah.[5]
2.
Galatia 2:20,
frasa “namun bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang
hidup di dalam aku” secara tegas menegaskan realitas Christ in You
dalam kehidupan baru orang percaya yang menghasilkan transformasi hidup.
Kehadiran Kristus membawa perubahan yang nyata dengan membaharui hati, pikiran,
dan perilaku orang percaya sehingga semakin mencerminkan karakter Kristus.[6]
3.
1 Yohanes 2:6,
frasa “ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup”
menegaskan bahwa kehadiran Kristus di dalam diri orang percaya harus nyata
dalam pola hidup yang meneladani karakter Kristus. Kehadiran Kristus tersebut
membimbing tindakan moral orang percaya dan membentuk relasi etis yang
bertanggung jawab dengan dunia di sekitarnya.[7]
4.
Filipi 4:13
ungkapan “di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” menegaskan
bahwa kehadiran Kristus dalam diri orang percaya menjadi sumber kekuatan rohani
untuk menghadapi berbagai situasi kehidupan. Kehadiran Yesus dalam hidup para
pengikut-Nya menyediakan kekuatan spiritual yang memungkinkan mereka menjalani
hidup sesuai dengan kehendak Allah.[8]
5.
Kolose 1:27 ungkapan “Kristus
ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan”
menegaskan bahwa Kristus yang diam di dalam umat-Nya merupakan jaminan
sekaligus sumber pengharapan bahwa orang percaya akan mengambil bagian dalam
kemuliaan kekal bersama Allah. Pengharapan ini dialami baik pada masa kini
melalui kehidupan yang terus diperbarui di dunia, maupun pada masa yang akan
datang dalam kehidupan kekal di surga. Kehadiran Kristus yang membawa
pengharapan akan kemuliaan kekal merupakan inti sekaligus tujuan akhir dari
kehidupan Kristen.[9]
Eksposisi
ὅ ἐστιν Χριστὸς ἐν ὑμῖν, ἡ ἐλπὶς τῆς δόξης (ho estin Khristós en
humîn, hē elpís tēs dóxēs)
Sebelum kata Χριστὸς ἐν ὑμῖν,
ada kata ho estin (Which is), kata ho adalah kata ganti relatif,
nominatif netral tunggal, berasal dari ὅς adalah sebagai kata ganti relatif
yang menyesuaikan diri dengan antesedennya dalam jenis kelamin (gender) dan
jumlah, sedangkan kasusnya ditentukan oleh fungsinya di dalam klausa sendiri,
tetapi kadang-kadang ditarik mengikuti kasus antesedennya, seperti: yang,
siapa, yang mana, bahwa, apa.
Kemudian kata estin (ἐστιν) kata kerja indikatif
waktu kini (present) bentuk aktif orang ketiga tunggal dari εἰμί. Kata kerja
predikatif “ada / adalah”, berkaitan dengan keberadaan atau kata kerja
kopulatif (penghubung). Kata estin menyatakan keberadaan Allah (Kristus),
menyatakan keberadaan dalam waktu, menyatakan tinggal menetap.
Χριστὸς ἐν ὑμῖν (Khristós en
humîn) – Christ in you atau Kristus di dalammu
atau Kristus di dalam kamu. Kata ἐν kata depan dengan kasus datif yaitu menunjukkan
kehadiran internal, bukan sekadar bersama atau di sekitar. ὑμῖν (humin) kata
ganti pribadi, datif jamak, berasal dari σύ (su) artinya
kepada kamu sekalian, bagimu yang menekankan subjek. Kata σύ (su) kata ganti
pribadi orang kedua tunggal arti engkau, kamu. kata Χριστὸς diletakkan sebelum
frasa keterangan tempat (ἐν ὑμῖν). Kata Χριστὸς adalah kata benda nominatif
maskulin tunggal, nama diri, berasal dari Χριστός yang artinya Kristus (yang
diurapi / Mesias). Memberi penekanan pada subjeknya yaitu Kristus sendiri,
bukan hanya pengalaman rohani.
Jadi, Χριστὸς
ἐν ὑμῖν menegaskan bahwa realitas kehadiran Kristus yang nyata, aktif, dan
menetap di dalam orang percaya. Kata ἐστιν menunjukkan
keberadaan yang berkelanjutan, bukan sementara, sementara ἐν dengan datif
menekankan kehadiran internal, bukan sekadar kedekatan eksternal. Penempatan
Χριστός di awal frasa menegaskan bahwa subjek utama adalah pribadi Kristus
sendiri, bukan pengalaman subjektif manusia. Jadi, iman Kristen berakar pada
persatuan ontologis dengan Kristus yang hidup di dalam umat-Nya sebagai sumber
identitas, kehidupan, dan pengharapan.
2. Hope
for the Future (Harapan untuk masa depan)
ἡ ἐλπὶς τῆς δόξης (hē elpís
tēs dóxēs). Kata ἡ (he) adalah kata sandang tertentu (definite
article), nominatif feminin tunggal, berasal dari ὁ. Secara umum, kata
sandang ini memberi nuansa kebertentuan atau kekhususan (individualitas) dalam
setiap bentuk ungkapan. Kata ἐλπὶς (elpis) adalah kata benda,
nominatif feminin tunggal (umum), berasal dari ἐλπίς yang artinya pengharapan
atau harapan. Kata τῆς (tes) adalah kata sandang tertentu (definite
article), genitif feminin tunggal, berasal dari ὁ (he). Kata sandang
tertentu yang ditempatkan di depan kata benda; bentuk jamaknya οἱ, αἱ, τά. Secara
umum, kata sandang ini memberi nuansa kekhususan atau kebertentuan (individualitas)
dalam suatu ungkapan, dengan fungsi utama yang ditentukan oleh konteks kalimat.
Kata δόξης (dóxēs) adalah kata benda, genitif feminin tunggal (umum),
berasal dari δόξα yang artinya kemuliaan, keagungan, kehotmatan.
ἡ ἐλπίς (hē elpís) adalah
pengharapan, kata ini selalu berorientasi ke depan (future-oriented), bukan sekadar
harapan subjektif, melainkan memberikan pengharapan yang pasti secara pribadi (individual). τῆς
δόξης (tēs
dóxēs) artinya akan kemuliaan yang merupakan bentuk genetif bersifat objektif yaitu
pengharapan yang tertuju pada kemuliaan yang akan datang. Memberi pesan bagi
kita bahwa bukan sembarang harapan, tetapi pengharapan yang spesifik dan pasti,
pengharapan eskatologis (masa depan), atau kemuliaan yang belum dinyatakan sepenuhnya,
tetapi dijamin.
Oleh karena ini, di tengah
situasi yang terus berubah dan sering kali menjauh dari kebenaran, pemuda
Kristen dipanggil untuk hidup berbeda. Bukan karena kita lebih kuat, tetapi
karena Kristus hidup di dalam kita. Dialah yang memberi keberanian untuk
mengambil keputusan yang benar, kekuatan untuk bertahan dalam pencobaan, dan
pengharapan untuk melangkah ke masa depan tanpa takut.
Saudara-saudara muda, masa
depan mungkin terlihat tidak pasti, tetapi satu hal yang pasti: Kristus ada di
dalam kita. Dan selama Kristus hidup di dalam kita, selalu ada harapan. “Christ
in me” berarti saya tidak berjalan sendiri. “Hope for the future” berarti masa
depan saya aman di dalam tangan Tuhan.
Bayangkan sebuah smartphone
yang canggih dan mahal. Dari luar, tampilannya sempurna. Namun, ketika baterainya
habis, ponsel itu tidak bisa berfungsi sama sekali. Semua fitur yang hebat
tidak berarti tanpa sumber daya di dalamnya.
Banyak pemuda Kristen hidup
seperti ponsel tersebut. Dari luar terlihat baik: aktif di gereja, ikut
pelayanan, dan mengenal firman Tuhan. Tetapi di dalam, mereka sering kelelahan
secara rohani, kosong, dan kehilangan arah. Bukan karena mereka tidak punya
potensi, tetapi karena mereka tidak menyadari atau tidak mengandalkan Kristus
yang hidup di dalam diri mereka sebagai sumber kekuatan dan harapan.
1. Menghidupi
Kristus dalam Keputusan Sehari-hari
Bukan hanya bertanya, “Apa yang saya mau?”, tetapi
“Apa yang Kristus mau saya lakukan?”. Libatkan Tuhan dalam keputusan kecil
maupun besar—pergaulan, studi, pekerjaan, dan masa depan.
2. Membangun
Identitas di Dalam Kristus
Jangan menilai diri dari pencapaian atau kegagalan.
Tetapi, ingatkan diri setiap hari bahwa “Saya berharga bukan karena apa yang
saya lakukan, tetapi karena Kristus hidup di dalam saya.”
3. Mengganti
Kekhawatiran dengan Doa dan Firman
Ketika takut akan masa depan, jangan memendam
sendiri. Tetapi, ubah kecemasan menjadi doa dan renungkan firman Tuhan yang
meneguhkan pengharapan.
4. Menjalani
Proses dengan Iman, Bukan Terburu-buru
Pemuda sering ingin hasil instan. Harus ingat bahwa
Kristus bekerja melalui proses. Pemuda harus percaya bahwa Tuhan sedang
membentuk karakter, bukan hanya memberi hasil.
5. Menjadi Saksi Harapan bagi Lingkungan Sekitar
Pemuda yang memiliki Kristus di dalamnya akan
memancarkan pengharapan. Oleh karena itu, hidup yang tetap bersyukur, jujur,
dan berpengharapan di tengah kesulitan menjadi kesaksian nyata bagi dunia.
[1] Yuval Noah
Harari, Homo Deus (Jakarta: Pustaka
Alvabet, 2018).
[2] Ristan
Manurung, Kosma dan Rakim, “Refleksi Teologis Kisah Pergumulan Yakub Dan Allah
Dari Bingkai Kaum Pentakostal,” TELEIOS:
Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 2, no. 2 (2022): 77–88,
https://doi.org/10.53674/teleios.v2i2.47.
[3] Marinus Nel,
“Pentecostal Engagement with the Concept of Salvation Employed by African
Neopentecostalism,” Journal of Pentecostal
Theology 30, no. 2 (2021): 282–300.
[4] Steven
Palilingan Kosma Manurung, “Membaca Narasi Panggilan Samuel Dari Pemahaman Kaum
Pentakostal,” EUANGGELION: Jurnal Teologi
Dan Pendidikan Kristen 4, no. 1 (2023): 24–38,
https://doi.org/10.1177/0731121419870775.2.
[5] Watchman
Nee, The Normal Christian Life
(Tyndale House, 1961), 47–49.
[6] Dallas
Willard, Renovation of the Heart: Putting
on the Character of Christ (Colorado Springs, CO, Amerika Serikat:
NavPress, 2002).
[7] H. Richard
Niebuhr, Christ and Culture (Harper
& Row Publishers, 1951), 142–45.
[8] Robert W.
Pazmiño, Principles and Practices in
Christian Education (Baker Academic, 1997), 89–92.
[9] N.T. Wright,
Paul for Everyone: The Prison Letters
(Westminster: John Knox Press, 2004), 162–64.

Komentar