Setia dan Taat pada Panggilan (Kolose 3:23-24) Oleh: Pdt. Refamati Gulo, M.Th.


Setia dan Taat pada Panggilan

Kolose 3:23-24

Oleh: Pdt. Refamati Gulo, M.Th.

Pendahuluan

Dalam dunia pelayanan akademik, kita mudah terjebak dalam rutinitas yaitu mengajar, menyusun kurikulum, menilai tugas, menghadiri rapat, dan menyelesaikan administrasi. Lama-kelamaan, semua itu bisa terasa biasa, bahkan melelahkan. Namun Firman Tuhan hari ini mengajak kita berhenti sejenak dan merenung: untuk siapa sesungguhnya kita bekerja? Kolose 3:23-24 menegaskan bahwa segala yang kita lakukan harus dikerjakan dengan segenap hati, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Ini berarti, setiap tugas, sekecil atau seterbatas apapun, adalah bentuk ibadah kita kepada Kristus.

Kita bukan hanya sekadar, Pendeta, Penatua, Diaken, Tenaga Pengajar, staf, pekerja, tetapi kita adalah mitra Allah dalam membentuk generasi pelayan yang akan membawa terang Injil ke tengah dunia. Pekerjaan kita tidak hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga karakter dan iman. Lima ciri karakter Setia dan Taat pada panggilan:

1.    Selalu rindu berkenan kepada Tuhan sebagai komandannya (2 Tim. 2:4) “Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya” – Kita diumpamakan sebagai seorang prajurit yang setia dan taat kepada komandannya.

2.    Bisa memperhatikan kebutuhan orang lain (Gal. 9-10) “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

3.    Melahirkan pelayanan dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23-24) “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”

4.    Selalu setia dalam melayani Tuhan (Mati. 25:23) “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

5.    Selalu rendah hati (Filipi 2:3-4) “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Melalui renungan hari ini ada beberapa pelajaran penting, yaitu:

1.    Melayani dengan hati (Kol 3:23)

Pendeta, Penatua, Diaken, Tenaga Pengajar, staf, pekerja bukan hanya profesi—tetapi panggilan ilahi. Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita kerjakan, tetapi bagaimana hati kita mengerjakannya. Panggilan untuk bekerja dengan sepenuh hati adalah pengingat akan ketekunan dan komitmen yang diharapkan dari orang percaya. Ini mencerminkan etos kerja yang terlihat dalam Amsal 6:6-8, di mana semut dipuji karena kerajinannya. Dalam konteks budaya gereja mula-mula, di mana banyak yang menjadi budak atau buruh, instruksi ini akan sangat menyentuh, mendorong mereka untuk menemukan martabat dan tujuan dalam pekerjaan mereka. Frasa itu juga menunjuk pada transformasi batin yang datang dari melayani Kristus, di mana seluruh keberadaan seseorang terlibat dalam tugas yang ada.

Apakah kita mengajar dengan kasih?

Apakah kita melayani mahasiswa dengan kesabaran?

Apakah kita menjaga integritas di setiap administrasi?

Hati yang penuh pengabdian kepada Tuhan akan melahirkan dampak rohani yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan akademik.


2.    Kesetiaan yang berbuah upah kekal (Kol. 3:24)

Firman Tuhan menegaskan bahwa upah kita tidak datang dari manusia. Kadang hasil kerja kita tidak dihargai, pengorbanan kita tidak dilihat. Tapi Tuhan mencatat semuanya. Kristus adalah Tuan kita—Dialah yang akan memberi upah. Konsep upah dikaitkan dengan gagasan keadilan ilahi dan balasan atas kesetiaan. Dalam dunia Yunani-Romawi, upah sering diberikan atas kesetiaan dan pelayanan, sebuah konsep yang diadaptasi Paulus untuk menggambarkan upah rohani bagi orang percaya. Hal ini digaungkan dalam Ibrani 11:6, yang menyatakan bahwa Allah memberi upah kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Ingatlah bahwa kesetiaan di dalam dunia pendidikan teologi adalah investasi kekal.


3.    Menjadi Teladan dan Garam (Mat. 5:13-16)

Sebagai dosen dan staf, kita bukan hanya penyampai ilmu, tapi juga teladan hidup Kristiani.

Kita dipanggil menjadi terang bagi mahasiswa, menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam cara kita mengajar, memimpin, dan bekerja sama.

Ketika kita mengerjakan semua dengan hati yang tulus, Tuhan melihat, dan dari Dialah kita akan menerima upah. Biarlah semangat melayani Kristus menjadi alasan utama kita terus berkarya—bukan demi pengakuan manusia, tetapi karena kasih dan ketaatan kepada Dia yang telah memanggil kita.

Dalam era yang penuh tantangan ini, mari kita perbarui komitmen kita: bekerja bukan hanya untuk institusi, tetapi untuk Kristus. Melayani bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta kepada Tuhan dan generasi penerus gereja.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, Engkau memanggil kami bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk membentuk jiwa. Ajarlah kami untuk setia dalam tugas, rendah hati dalam pelayanan, dan penuh kasih dalam berelasi. Kami persembahkan seluruh karya kami bagi kemuliaan-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa, Amin.




 

Komentar

Anonim mengatakan…
Puji Tuhan. Terimakasih pak Refa. Mmg ini yg saya tiap hari jalani, renungkan, spy bs berkenan melakukan ya spt utk Tuhan - bukan manusia. Diteguhkan kembali. Amin. Slmt mlyni & berbuah bg Kristus.
Ms. Sally. B.

Postingan populer dari blog ini

Mengasihi dan Mengikut Yesus Dengan Setia (Yohanes 21 : 15 - 19)

Kasih yang Mengikat (Kolose 3 : 14)