Alangkah Baiknya Hidup Rukun (Mazmur 133:1-3) - Pdt. Refamati Gulo, M.Th.
Pengantar
Hidup rukun adalah
dambaan setiap persekutuan. Pasti persekutuan, entah keluarga, organisasi, STM,
Jemaat, dan Masyarakat, semuanya menginginkan supaya hidup dengan rukun. Hidup
rukun adalah keadaan di mana orang-orang yang hidup bersama menjalin hubungan yang
damai, saling menghormati, saling mengasihi, dan mau bekerja sama meskipun ada
perbedaan, sehingga tercipta keharmonisan yang menyenangkan hati Tuhan dan
membawa berkat bagi semua. Tetapi seperti apakah gambaran persekutuan atau
persaudaraan yang rukun itu? Mari kita belajar bersama dari Mazmur 133 yang
menjadi renungan kita hari ini.
Mazmur 133 adalah
mazmur yang singkat dan termasuk dalam Mazmur Ziarah, namun kaya akan makna.
Mazmur ini menyingkapkan pentingnya kerukunan dalam keluarga umat Allah. Melalui
pengalaman hidup beriman, umat Israel menyadari bahwa sesuatu yang paling baik
dan paling indah adalah ketika saudara-saudara hidup dan diam bersama dalam
kerukunan.
Pemazmur membuka
dengan sebuah seruan yang penuh kekaguman: “Sungguh, alangkah baiknya dan
indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” Kerukunan
bukan sekadar kondisi tanpa konflik, melainkan suatu keadaan yang menyenangkan
hati Allah, membawa keharuman kasih, dan menghadirkan berkat-Nya.
Pemazmur menggambarkan
kerukunan seperti minyak yang mahal di atas kepala Harun, mengalir sampai ke
janggut dan jubahnya. Minyak itu melambangkan pengurapan, sukacita (fa’omuso
dodo), damai sejahtera (fa’ohahau dodo), dan kehadiran Allah yang nyata.
Kerukunan juga diibaratkan seperti embun Hermon yang turun ke gunung-gunung
Sion, menyegarkan (fangokafu), memberi kehidupan, dan menumbuhkan harapan. Di
sanalah, kata firman Tuhan, Allah memerintahkan berkat, yaitu kehidupan untuk
selama-lamanya.
Melalui gambaran ini,
kita diajak menyadari bahwa persaudaraan, keharmonisan keluarga, dan
kebersamaan dalam kasih bukanlah hal sepele. Itulah ruang di mana Allah
berkenan hadir dan bekerja.
Aplikasi
Ø
Pertama, Kerukunan
Dibangun dengan Merawat Relasi
Hidup rukun dimulai dari kesediaan
untuk merawat hubungan, bukan menunggu hubungan itu rusak. Di tengah kehidupan
modern yang sibuk, banyak orang percaya hadir secara fisik tetapi jauh secara
hati, bahkan di dalam keluarga sendiri. Mazmur ini mengingatkan kita untuk
sengaja meluangkan waktu mendengar, memahami, dan mengasihi. Kerukunan
terbangun ketika kita memilih untuk berbicara dengan kasih, meminta maaf saat
salah, dan mengampuni meski tidak mudah. Inilah wujud nyata kasih Kristus dalam
relasi sehari-hari.
Ø
Kedua, Kerendahan
Hati sebagai Dasar Hidup Rukun dalam Perbedaan
Hidup rukun menuntut
kerendahan hati untuk menempatkan kebersamaan di atas ego pribadi. Dalam
komunitas, gereja, maupun keluarga, perbedaan pendapat dan karakter adalah hal
yang tidak terhindarkan. Namun firman Tuhan menegaskan bahwa keindahan tidak
lahir dari keseragaman, melainkan dari kesatuan hati. Ketika orang percaya
belajar mengalahkan keinginan untuk selalu benar, dan memilih membangun
daripada menang sendiri, di situlah kerukunan menjadi kesaksian hidup tentang
kasih Allah.
Ø
Ketiga, Kerukunan sebagai Saluran
Berkat dan Kesaksian Kasih Allah
Hidup rukun menjadi saluran
berkat bagi orang lain dan generasi berikutnya. Kerukunan bukan hanya untuk
dinikmati sendiri, tetapi memancarkan damai sejahtera Tuhan ke sekeliling.
Keluarga yang hidup dalam kasih menjadi tempat aman bagi anak-anak untuk
bertumbuh. Jemaat yang rukun menjadi terang bagi dunia yang penuh perpecahan.
Di sanalah Tuhan memerintahkan berkat-Nya, bukan hanya berkat jasmani, tetapi
kehidupan yang penuh makna dan pengharapan.

Komentar