What is Calling - Yeremia 1:5-10
Pengantar
Panggilan (calling)
adalah suatu karya Allah yang berakar pada kehendak-Nya yang berdaulat dan
kasih karunia-Nya yang tak terbatas. Panggilan bukan sekadar undangan,
melainkan tindakan aktif Allah dalam menggenapi maksud kekal-Nya dalam Kristus.
Sejak kekekalan, Allah telah
menetapkan untuk menyelamatkan umat-Nya, dan salah satu cara Ia menggenapi
rencana tersebut adalah melalui panggilan. Dalam narasi keselamatan, panggilan
adalah momen di mana Allah mulai mengerjakan keselamatan secara pribadi dan
nyata dalam hidup seseorang. Dalam pandangan teologi Reformed membedakan dua
bentuk panggilan: panggilan umum dan panggilan efektif.
Panggilan umum adalah pewartaan
Injil kepada semua orang. Allah, melalui Firman-Nya, memanggil manusia berdosa
untuk bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Namun, karena kondisi manusia
yang telah jatuh dalam dosa, yang sepenuhnya rusak dalam kehendak, pikiran, dan
keinginannya, sehingga panggilan ini tidak akan menghasilkan respons tanpa
intervensi Roh Kudus.
Karena itulah, panggilan
efektif menjadi sangat penting kehidupan orang percaya. Ini adalah panggilan
yang menyelamatkan, di mana Roh Kudus secara pribadi dan penuh kuasa
membangkitkan hati yang mati secara rohani, memberi pengertian, menghasilkan
iman, dan membawa orang kepada Kristus. Panggilan ini tidak bisa ditolak, bukan
karena manusia dipaksa, tetapi karena hati yang diperbaharui oleh anugerah akan
merespons dengan sukacita dan iman sejati. Inilah bagian dari apa yang disebut
sebagai ordo salutis yaitu urutan karya
keselamatan Allah, di mana panggilan efektif menghubungkan pemilihan kekal
dengan pembenaran dan pemuliaan.
Namun, panggilan tidak
berhenti pada keselamatan. Ia juga menyentuh seluruh aspek kehidupan. Artinya,
setiap orang percaya memiliki panggilan hidup (vocatio). Allah tidak
hanya memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, tetapi
juga memanggil kita untuk hidup bagi-Nya yaitu baik dalam keluarga, pekerjaan,
pelayanan, maupun masyarakat. Tidak ada dikotomi antara yang “rohani”
dan yang “sekuler”, semua menjadi kudus jika dilakukan dalam ketaatan
dan iman kepada Kristus.
Dengan demikian, panggilan
adalah karya kasih karunia Allah, yang menarik umat-Nya kepada keselamatan, dan
mengutus mereka ke dunia untuk hidup bagi kemuliaan-Nya. Dalam setiap hal yakni
mulai dari pertobatan hingga tugas harian, orang percaya hidup dalam tanggapan
terhadap panggilan Allah. Artinya hidup bukan lagi milik sendiri, melainkan
milik Tuhan yang memanggil.
“Hidup kita adalah
panggilan. Kita dipanggil keluar dari maut menuju hidup. Kita dipanggil keluar
dari pemberontakan menuju ketaatan. Dan kita dipanggil untuk menjadi saksi
kasih karunia yang telah memanggil kita.”
Dalam era zaman sekarang
panggilan hidup seseorang untuk menjadi hamba Tuhan tidak lagi direspon dengan
baik karena berbagai alasan. Panggilan merupakan tanggungjawab untuk
memberitakan injil kepada mereka yang belum mengenal Tuhan. Panggilan adalah
suatu perintah Tuhan Yesus Kritus kepada para murid-Nya. Melalui perintah ini misi
Kristus mulai diberitakan oleh para murid dan semua orang percaya. Maka dalam
merespon panggilan untuk menjadi hamba Tuhan perlu mengerti betul kedaulatan
Tuhan yang menyatakan panggilan dalam kehidupan seseorang untuk mengerjakan apa
yang diperintahkan oleh Tuhan kepada suatu bangsa. Artinya hamba
Tuhan dipanggil untuk terlibat dalam pelayanan tanpa memandang tempat. Karena hamba Tuhan
bukan pelayanan berdasarkan apa yang ia inginkan tetapi apa yang Tuhan
perintahkan untuk dikerjakan. Sekali pun manusia tidak ingin mengerjakan
panggilannya karena berbagai alasan akan tetapi jika Tuhan sudah memilih
seseorang untuk menjadi hamba-Nya, maka kedaulatan Tuhan akan dinyatakan dalam
kehidupan orang tersebut.
Pembahasan
1. Panggilan
Adalah Inisiatif Tuhan (Yer. 1:5)
Panggilan bukan dimulai dari
manusia, tapi dari Allah sendiri. Tuhan yang mengenal, menetapkan, dan
mengutus. Kita dipanggil bukan karena kemampuan, tapi karena kehendak-Nya. Ayat
ini menggemakan prinsip utama bahwa Allah memilih dan menetapkan seseorang
dalam kedaulatan-Nya sebelum manusia merespons atau melakukan sesuatu. Konsep
ini sejalan dengan doktrin predestinasi, sebagaimana dijelaskan dalam Efesus
1:4-5 dan Roma 8:29-30. Allah mengenal Yeremia sebelum ia lahir, artinya
bahwa pemilihan Allah bersifat pribadi, spesifik, dan berdasarkan rencana
kekal-Nya, bukan atas dasar kualitas, usaha, atau kebaikan manusia. Yeremia
mengalami panggilan khusus, di mana Tuhan tidak hanya menawarkan tugas
kenabian, tetapi juga memberikan kuasa dan kesanggupan untuk menggenapinya.
Panggilan ini tidak bisa gagal karena berasal dari kehendak Allah yang tidak
berubah.
Pemanggilan Allah kepada
Yeremia adalah bentuk inisiatif anugerah, di mana Tuhan: membentuk (menciptakan), mengenal (relasi perjanjian), menguduskan (memisahkan bagi
tujuan-Nya), menetapkan (mengutus dengan otoritas).
Yeremia tidak melamar menjadi nabi; ia dipilih, dipanggil, dan diutus oleh
Tuhan yang berdaulat. Ini mencerminkan monergisme, artinya bahwa
keselamatan dan pelayanan dimulai oleh karya tunggal Allah, bukan kerjasama
antara manusia dan Tuhan.
2. Panggilan
Adalah Respons Iman (Yesaya 6:8)
Setelah menerima penyucian
dari Tuhan, Yesaya merespons dengan sukarela. Panggilan menuntut kita untuk
mengatakan "Ya, Tuhan" meskipun belum tahu ke
mana atau bagaimana. Respons Yesaya terhadap panggilan Allah bukanlah tindakan
otonom dari kehendak bebas manusia, melainkan hasil dari anugerah Allah yang
lebih dahulu bekerja dalam dirinya. Yesaya baru saja mengalami penglihatan akan
kekudusan Tuhan dan menerima penyucian melalui bara yang menyentuh bibirnya
(Yes. 6:6–7).
Manusia yang berdosa tidak
mungkin merespons panggilan ilahi dengan iman sejati tanpa terlebih dahulu
diperbarui oleh kasih karunia. Respons Yesaya, “Ini aku, utuslah aku,” adalah buah dari
hati yang telah dipulihkan, bukan karena ia lebih rela dari orang lain,
melainkan karena Tuhan telah lebih dulu menyucikan dan memanggilnya.
3. Panggilan Untuk Melayani, Bukan Dimuliakan (Markus 10:45)
Yesus adalah teladan
panggilan sejati—mengabdi, mengasihi, dan memberi diri. Kita dipanggil bukan
untuk posisi, tapi untuk misi. Inti panggilan Kristen bukan kekuasaan atau
kehormatan, melainkan pengorbanan. Allah dalam kasih-Nya memanggil umat-Nya
untuk meneladani Kristus dalam kerendahan hati dan pengabdian. Segala bentuk
pelayanan lahir dari anugerah dan ketaatan, bukan dari keinginan mencari
pengakuan.
4. Panggilan
Berlaku untuk Semua Orang Percaya (2 Timotius 1:9)
Setiap orang percaya
memiliki panggilan bukan hanya pendeta atau pelayan gereja. Panggilan kudus ini
bersumber dari kasih karunia, bukan dari prestasi. Allah telah memanggil setiap
orang percaya kepada hidup yang kudus, bukan karena jasa, melainkan karena
kasih karunia-Nya dari kekekalan. 2 Timotius 1:9 menekankan bahwa panggilan
ilahi bersifat menyeluruh yaitu mencakup seluruh hidup, bukan hanya aspek
rohani. Semua orang percaya adalah bagian dari imamat umum, dipanggil untuk
mewakili Kristus dalam konteks hidup masing-masing.
5. Panggilan Bisa Berbeda, Tapi Tujuannya Sama (1 Korintus 12:4-6)
Tiap orang memiliki
panggilan unik guru, pengusaha, pelayan, seniman semua dipakai untuk kemuliaan
Tuhan. Walau setiap orang memiliki karunia dan jalan panggilannya
masing-masing, semuanya diarahkan untuk satu tujuan: memuliakan Allah dan
membangun tubuh Kristus. 1 Korintus 12 menegaskan keragaman karunia dalam
kesatuan tujuan. Kedaulatan Allah meliputi seluruh hidup, dan tidak ada
panggilan yang lebih "rohani" daripada yang lain, semuanya bagian
dari mandat budaya dan rencana penebusan-Nya.
Implikasi
1.
Panggilan kita tidak tergantung pada kelayakan,
usia, atau kehebatan kita, melainkan pada rencana kekal Allah. Karena panggilan
berasal dari Allah, maka Allah pula yang akan memampukan kita untuk
menjalankannya. Kita tidak mencari panggilan berdasarkan keinginan pribadi,
tetapi menyelaraskan diri dengan kehendak Allah yang telah lebih dahulu
merancang hidup kita.
2.
Kita tidak dipanggil karena kita cakap atau layak,
tetapi karena Tuhan lebih dahulu menyucikan dan memperbarui kita. Oleh karena
itu, Jangan ragu menjawab panggilan pelayanan meski merasa tidak layak.
Fokuslah pada karya Tuhan dalam hidupmu, bukan pada kelemahanmu. Jangan tunggu
semua jelas atau nyaman dulu untuk taat. Iman sering kali ditunjukkan melalui
tindakan meski arah belum sepenuhnya kelihatan. Carilah persekutuan yang intim
dengan Tuhan melalui doa, Firman, dan pertobatan karena dari sanalah lahir kerelaan
untuk diutus. Periksa motivasi saat hendak melayani. Apakah itu untuk Tuhan
atau untuk diri sendiri?. Belajarlah untuk berkata “ya” kepada Tuhan, bahkan
saat belum tahu apa langkah selanjutnya. Tuhan akan membukakan jalan bagi orang
yang berserah.
3.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup
dalam kerendahan hati yaitu melayani di rumah, gereja, dan masyarakat tanpa
menuntut balasan. Kepemimpinan Kristen sejati adalah kepemimpinan yang
melayani, bukan memerintah.
4.
Jangan merasa "lebih rendah" jika bukan
pendeta. Apapun profesimu baik guru, petani, dokter, ibu rumah tangga semuanya
bisa menjadi bentuk panggilan suci jika dilakukan dengan iman dan untuk
kemuliaan Allah.
5.
Hargai perbedaan karunia dalam tubuh Kristus. Jangan
membandingkan atau meremehkan peran orang lain. Setiap orang dipakai Allah
sesuai kehendak-Nya, dan semua bekerja sama demi satu misi: kemuliaan Allah.
TUHAN YESUS MEMBERKATI

Komentar