Bangsa-Bangsa Melihat Kebenaran dan Kemuliaan Tuhan (Yesaya 62 : 1 - 5)
Bangsa-Bangsa Melihat Kebenaran dan Kemuliaan Tuhan
Yesaya 62 : 1 - 5
Oleh: Pdt. Refamati Gulo, M.Th.
Pendahuluan
Berkaitan dengan topik
Minggu ini Bangsa-bangsa Melihat Kemuliaan Allah. Suatu visi nabi Yesaya, bahwa
setelah kepulangan umat Allah ke Yerusalem, seluruh bangsa-bangsa akan melihat
dan menyaksikan kebenaran dan kemuliaan Allah. Allah berkuasa atas segala
bangsa, Allah mengalahkan Babelonia melalui raja Persia dan Raja Persia sendiri
yakni Kores dipakai Allah memulahkan umat Allah dari pembuangan Babel. Bukan
hanya itu, menurut nabi Yesaya sebagaimana dalam kotbah minggu ini bahwa segala
bangsa akan menyaksikan kemuliaan Allah. Disebutkan dalam Yesaya 62:2 (TB) Maka
bangsa-bangsa akan melihat kebenaran-Mu, dan semua raja akan melihat kemuliaan-Mu,
dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh TUHAN
sendiri. Sion bukan hanya sebagai pusat peribadatan umat Allah, namun segala bangsa-bangsa akan
sujud dan beribadah ke Sion.
Kitab Yesaya 62 merupakan bagian dari nubuat pemulihan dan kemuliaan yang dijanjikan Tuhan bagi Sion (Yerusalem). Yesaya menubuatkan bagaimana Tuhan akan membenarkan dan memuliakan umat-Nya sehingga bangsa-bangsa lain akan melihat kemuliaan-Nya
1.
TUHAN tidak berdiam diri.
Yesaya 62:1-5 menekankan bagaimana Allah tidak
akan diam atau berhenti bekerja sampai kebenaran dan keselamatan umat-Nya
bersinar seperti terang. "Allah tidak pernah berhenti
mengasihi dan memulihkan"
Allah Tidak Pernah Diam untuk Umat-Nya (Ayat
1) Allah menunjukkan kasih-Nya yang aktif dan penuh komitmen. Seperti seorang
penjaga yang berjaga sepanjang malam, Allah terus bekerja untuk memastikan
umat-Nya dipulihkan. Dengan demikian kita diajak untuk percaya bahwa Allah tidak
pernah meninggalkan mereka, bahkan dalam kesulitan atau penderitaan.
Allah tidak berdiam diri
Dalam teks asli bahasa Ibrani, kata
"berdiam diri" berasal dari kata kerja "חָשָׁה" (ḥāšâ),
yang berarti "tetap diam," "tidak berbicara," atau
"tidak bertindak." Dalam konteks Yesaya 62:1, frasa "לְמַעַן צִיּוֹן לֹא אֶחֱשֶׁה" diterjemahkan sebagai
"Demi Sion, aku tidak akan berdiam diri" (TB). Ini menunjukkan
komitmen Allah untuk tidak tinggal diam, melainkan bertindak aktif demi
umat-Nya.
Allah Tidak Pasif:
Kata ini menekankan bahwa Allah tidak akan membiarkan keadaan umat-Nya tetap
seperti itu. Ia tidak bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan, kehancuran,
atau ketidakadilan yang dialami umat-Nya. Allah secara aktif memperjuangkan
pemulihan, kebenaran, dan keselamatan umat-Nya. Kesetiaan Allah kepada
Janji-Nya: Frasa ini menunjukkan bahwa Allah setia kepada janji-Nya terhadap
Sion (Yerusalem sebagai simbol umat Allah). Kesetiaan Allah mendorong
tindakan-Nya yang terus-menerus, meskipun umat-Nya sering gagal dalam
kesetiaan.
Pekerjaan Allah yang
Berkelanjutan:
Dalam ayat ini, "tidak berdiam diri"
juga dapat dipahami sebagai pekerjaan Allah yang tidak berhenti sampai
tujuan-Nya tercapai, yaitu kebenaran Sion bersinar seperti terang dan
keselamatan-Nya seperti suluh yang menyala (ayat 1b).
2.
Identitas Baru yang
Diberikan oleh Allah (Ayat 2-3)
Yesaya 62:2b (TB) dan orang akan menyebut engkau dengan nama
baru yang akan ditentukan oleh TUHAN sendiri.
Pada bahagian ini Yesaya menyampaikan bahwa
bangaa-bangsa akan melihat kebenaran Allah dan menyaksikan kemuliaan Allah.
Pemulihan Allah batas umat-Nya mengangkat nama Umat Allah. Keadaan ini berbeda
dengan apa yang mereka alami sebelumnya, yaitu merasa terasing, tersingkir dan terbuang. Selama di pembuangan mereka
dilanda kekuatiran akan masa depan, mereka tidak percaya diri dan terkungkung
atau terpenjara dalam "mental pembuangan".
Namun tindakan Allah memulihkan dan
mengembalikan mereka ke Yerusalem serta agenda pemulihan Tuhan akan Sion
membuat mereka dipandang dan berharga di mata orang.
Pemulihan Allah setelah kembalinya ke
Yerusalem bangsa-bangsa akan menyebut umat Allah menjadi nama baru. Penamaan
itu tentu berkaitan dengan identitas dan situasi baru yang dimasuki oleh umat
Allah setelah kembali dari pembuangan Babel.
Umat Tuhan akan diberi nama baru, mencerminkan
status mereka yang diperbarui sebagai milik Allah. Mahkota kemuliaan
menunjukkan betapa berharganya umat Allah di mata-Nya.
Nama lama atau Sion yang sebelumnya dianggap seperti
"Yang Ditolak" atau "Yang Ditelantarkan" (ayat 4) mencerminkan dosa, kehancuran,
dan penderitaan masa lalu kini akan disebut “Yang Berkenan kepada-Ku”
(Hephzibah). Dipulihkan dengan memiliki nama baru "yang disukai-Nya" dan
"yang menjadi istri") mencerminkan
pemulihan hubungan dan kasih Allah kepada umat-Nya. Artinya bahwa Tuhan tidak
lagi murka, tetapi kini berkenan dan berbelas kasihan kepada umat-Nya. Sebutan
“Yang Bersuami” (Beulah)
mengilustrasikan relasi antara Tuhan dan umat-Nya seperti hubungan pernikahan
yang penuh kasih dan komitmen.
Identitas baru sebagai Umat yang Dimuliakan
disebut sebagai "mahkota keagungan di tangan
TUHAN"
dan "serban (ikat kepala yang lebar) kerajaan di
tangan Allahmu".
Mahkota Keagungan:
Simbol kehormatan dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada umat-Nya.
Di Tangan TUHAN:
Ini menunjukkan bahwa identitas baru umat Allah tidak hanya mulia, tetapi juga
aman dalam perlindungan dan pemeliharaan-Nya. Umat yang sebelumnya terhina
karena dosa-dosa mereka sekarang menjadi lambang kemuliaan Allah di hadapan
bangsa-bangsa.
Nama baru ini bukan hasil usaha manusia,
tetapi diberikan oleh Allah sendiri. Ini menunjukkan bahwa identitas baru umat
Allah adalah bagian dari karya penebusan dan anugerah-Nya. Pengakuan oleh
Bangsa-Bangsa: Ayat 2 menyebutkan bahwa bangsa-bangsa akan melihat kebenaran
dan kemuliaan umat Allah. Identitas baru ini bukan hanya untuk pemulihan
internal umat, tetapi juga menjadi kesaksian bagi dunia.
Dalam kehidupan jemaat pemulihan dari masa
lalu dan ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak mendefinisikan mereka
berdasarkan dosa atau kegagalan masa lalu, tetapi berdasarkan rencana-Nya untuk
memulihkan dan memuliakan mereka.
Sebagai contoh seperti Paulus yang sebelumnya
Saulus (penganiaya gereja) diberi identitas baru sebagai rasul Kristus.
Berikutnya untuk menjelaskan nama baru ini
dapat kita bandingkan seperti seorang anak yang diadopsi dari situasi yang
sulit, menerima nama keluarga baru. Nama itu bukan hanya tanda pemulihan,
tetapi juga menunjukkan bahwa ia sekarang memiliki tempat, kasih, dan tujuan
yang baru.
Demikian juga, Allah memberi nama baru kepada
umat-Nya, menunjukkan bahwa mereka diterima sepenuhnya dalam kasih-Nya.
3.
Pemulihan relasi: Allah
sebagai Mempelai Laki-Laki (Ayat 4-5)
Umat yang sebelumnya disebut "yang ditinggalkan" akan disebut "yang diperkenan." Ini menggambarkan kasih Allah yang
menghapus rasa malu dan kesedihan.
Relasi antara Allah dan umat-Nya digambarkan
seperti hubungan mempelai laki-laki dan perempuan, penuh kasih dan kesetiaan.
Apa jadinya jika seorang suami meninggalkan
isterinya? Tentu berat bukan? Apa lagi pada
jaman perjanjian Lama. Seorang yang ditinggal suami akan malang, tiada
pelindung, tiada penolong dan akan dioandang rendah orsng lain karwna tidak
bisa memelihara hubungan dengan suaminya. Tidak heran jika pada PL janda
menjadi perhatian para nabi. Allah membela nasib para janda dan yatim karwna
sering mejadi korban ketidak adilan, penindasan dan kesewenangan.
Seorang wanita yang ditinggal suami dalam
pandangan PL demikianlah digambarkan dalam kotbah ini, kembalinya suami adalah
bentuk pemulihan, perlindungan dan memelihara kembali hubungan yang intim dan
hidup dalam kebahagiaan.
Aspek lain adalah suami yang kembali ke isterinya hendak menjelaskan tentang kasih setia dan pengampunan. Sekalipun umat Allah tidak setia dan berbalik kepada ilah lain, namun Allah tetap setia pada janjiNya. Demi kasihNya dan janjiNya Allah melupakan pelanggaran umatNya dan datang untuk menyelamatkanNya.
Aplikasi
1.
Menjadi Terang bagi Dunia
– Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk mencerminkan kebenaran dan kemuliaan
Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini berarti hidup dalam integritas,
kasih, dan kebaikan, sehingga orang lain dapat melihat karya Tuhan dalam hidup
kita (Matius 5:16) “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,
supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di
sorga."
2. Menghidupi Identitas Baru dalam Kristus – Tuhan memberi kita identitas baru sebagai anak-anak-Nya. Ini mengingatkan kita untuk tidak hidup dalam rasa malu atau penolakan, tetapi dalam keberanian dan keyakinan bahwa kita dikasihi dan dipilih oleh Tuhan (Efesus 2:10) “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
3.
Memelihara Hubungan yang
Intim dengan Tuhan – Sebagaimana Tuhan berjanji untuk
bersukacita atas umat-Nya, kita dipanggil untuk membangun hubungan yang erat
dengan-Nya. Melalui doa, ibadah, dan firman Tuhan, kita dapat mengalami kasih
dan kesetiaan Tuhan setiap hari (Yakobus 4:8) “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia
akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan
sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!”
TUHAN YESUS MEMBERKATI


Komentar