PERTOBATAN MEMBAWA SUKACITA SEJATI (MAZMUR 85:1-8)
PERTOBATAN MEMBAWA SUKACITA SEJATI
MAZMUR 85 : 1 – 8
Oleh: Pdt. Refamati Gulo, M.Th.
INTRODUCTION
Pertobatan
adalah suatu proses spiritual dan emosional di mana seseorang mengakui
dosa-dosanya, menyesalinya, dan berkomitmen untuk meninggalkan perbuatan yang
salah serta kembali kepada jalan yang benar. Secara umum, ada tiga elemen
penting dalam pertobatan, yaitu: Pertama, Seseorang menyadari dan
mengakui bahwa ia telah melakukan sesuatu yang salah atau berdosa, baik
terhadap Tuhan, diri sendiri, maupun orang lain. Kedua,
Pertobatan tidak hanya berupa pengakuan lisan, tetapi juga disertai perasaan
sesal yang tulus. Orang yang bertobat benar-benar merasa bersalah atas
perbuatan mereka dan ingin memperbaikinya. Ketiga, Komponen
penting dari pertobatan adalah perubahan perilaku. Seseorang yang bertobat akan
berusaha meninggalkan dosa atau kebiasaan buruk yang lama dan mulai menjalani
hidup yang lebih baik atau sesuai dengan ajaran agama atau moral yang
dianutnya.
Sukacita adalah perasaan gembira, bahagia, atau penuh
kebahagiaan yang mendalam, biasanya disebabkan oleh pengalaman positif atau
kepuasan batin yang tidak selalu bergantung pada keadaan luar. Sukacita lebih
dalam daripada sekadar kebahagiaan sesaat, karena seringkali muncul dari
perasaan syukur, damai, atau kedamaian hati. Ciri-cirinya adalah: Pertama,
Sukacita berasal dari dalam hati, tidak selalu dipengaruhi oleh situasi luar
atau hal-hal materi. Orang bisa merasa bersukacita meskipun berada dalam
situasi sulit atau tantangan hidup, karena sukacita terkait dengan kedamaian
hati dan pemenuhan spiritual. Kedua, Sukacita sering kali terkait
dengan rasa syukur atas berkat atau kebaikan yang diterima. Ini bisa berupa
hal-hal kecil dalam hidup, hubungan yang baik, atau kepuasan atas pencapaian
yang bermakna. Ketiga, sukacita dipandang sebagai anugerah dari
Tuhan atau hasil dari hubungan yang dekat dengan Tuhan. Sukacita tidak hanya
muncul dari hal-hal duniawi, tetapi dari kesadaran akan kehadiran Tuhan atau
kebaikan-Nya dalam hidup. Keempat, Sukacita bersifat lebih stabil
dan bertahan lama dibandingkan kebahagiaan yang seringkali bergantung pada
keadaan eksternal, seperti kesuksesan, kekayaan, atau hal-hal yang bersifat
sementara.
Mazmur 85 adalah sebuah nyanyian doa yang memohon pemulihan dan pengampunan dari Tuhan. Mazmur ini ditulis dalam konteks ketika umat Israel sedang menghadapi kesulitan besar, mungkin setelah mereka kembali dari pembuangan di Babel atau menghadapi keadaan buruk lainnya. Penulis Mazmur mengingat masa lalu ketika Tuhan menunjukkan kasih karunia-Nya, dan kini umat Tuhan memohon agar belas kasih dan pemulihan yang sama diberikan kembali. Hal ini mengajarkan bagi kita bahwa pentingnya mengingat kasih setia Tuhan di masa lalu ketika kita menghadapi pergumulan saat ini. Ini adalah seruan bagi kita untuk percaya bahwa Tuhan tetap setia memulihkan dan memberkati, meskipun kita berada dalam situasi sulit.
Eksposisi:
1.
Mengenang
akan pemulihan Tuhan (ay. 1-3)
Pemazmur mengenang bagaimana Tuhan pernah memulihkan Israel di masa lalu. Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka dan menyembunyikan murka-Nya. Pemulihan yang diberikan Tuhan kepada Israel di masa lalu menjadi dasar keyakinan bahwa Tuhan yang sama akan bertindak lagi di masa sekarang. Pemazmur menunjukkan bahwa Tuhan adalah sumber kasih dan pengampunan yang tidak berubah.
2.
Seruan
Memohon Pemulihan Kembali (ay. 4-5)
Setelah mengingat kebaikan Tuhan di masa lalu, pemazmur mengajukan permohonan untuk pemulihan yang sama di masa sekarang. Israel mengakui bahwa murka Tuhan mungkin sedang menimpa mereka karena dosa-dosa mereka, namun mereka juga memohon pengampunan dan belas kasihan. Pertanyaan retoris “Untuk selamanyakah Engkau murka?” mencerminkan keyakinan bahwa Tuhan, pada akhirnya, akan menyatakan belas kasih-Nya kembali.
3.
Memohon
Kebangkitan Rohani dan Keselamatan (ay. 6-7)
Pemazmur meminta kebangkitan rohani dari Tuhan, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi agar seluruh bangsa Israel dapat kembali bersukacita di dalam Tuhan. Permohonan ini menunjukkan bahwa sukacita sejati datang dari pemulihan hubungan dengan Tuhan. Pemazmur juga memohon agar kasih setia Tuhan yang tak terbatas ditunjukkan kembali, serta keselamatan yang berasal dari Tuhan.
4.
Kesediaan
untuk Mendengar Firman Tuhan (ay. 8)
Pemazmur menunjukkan kerinduan untuk mendengar firman Tuhan. Firman yang dinantikan itu adalah damai bagi umat-Nya, tetapi ada syarat yang ditetapkan: umat Tuhan harus menjauhi kebodohan, yaitu dosa dan pemberontakan terhadap Tuhan. Damai dan keselamatan datang kepada mereka yang hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Artinya, Kita harus siap mendengar dan menerima firman Tuhan dalam hidup kita. Karena, damai sejati hanya datang ketika kita taat kepada-Nya dan menghindari dosa.
Aplikasi:
1.
Mengenali
Kasih Tuhan di Masa Lalu
Seperti
pemazmur yang mengingat pemulihan di masa lalu, kita juga harus mengenali
bagaimana Tuhan telah bekerja dalam hidup kita sebelumnya. Refleksi ini
memberikan kekuatan dan keyakinan bahwa Tuhan yang sama akan bertindak di masa
sekarang dan masa depan. Dalam setiap pergumulan, ingatlah bagaimana Tuhan
telah setia dalam hidup kita dan gunakan itu sebagai dasar untuk berharap
pada-Nya.
2.
Berseru
untuk Pemulihan dan Pengampunan
Ketika kita
merasa terpisah dari Tuhan karena dosa atau kesulitan hidup, Mazmur ini
mengajarkan kita untuk datang kepada Tuhan dalam doa, memohon pemulihan dan
pengampunan. Tuhan tidak akan membiarkan murka-Nya berlangsung selamanya; Dia
rindu memulihkan dan menyelamatkan kita. Berdoalah dengan tulus, percaya bahwa
Tuhan adalah Allah yang pengasih.
3.
Meminta
Kebangkitan Rohani dan Sukacita
Kebangkitan
rohani hanya terjadi ketika kita dengan rendah hati memohon kepada Tuhan untuk
memperbarui hati dan jiwa kita. Sukacita sejati datang dari hidup dalam kasih
setia Tuhan, bukan dari hal-hal materi atau duniawi. Kita harus meminta Tuhan
untuk menghidupkan kembali hati kita dan mengembalikan sukacita yang berasal
dari hubungan yang dekat dengan-Nya.
4.
Mendengarkan
Firman Tuhan dengan Hati Terbuka
Seperti pemazmur, kita perlu memiliki hati yang siap mendengarkan firman Tuhan. Tuhan menawarkan damai dan keselamatan, tetapi kita juga harus menjauhi kebodohan atau kehidupan yang penuh dosa. Merenungkan firman Tuhan setiap hari adalah cara terbaik untuk menjaga hati kita tetap dekat dengan-Nya.
Kesimpulan:

Komentar