BERTOBAT, AGAR TIDAK BINASA (LUKAS 13:1-5)

                                     

 BERTOBAT, AGAR TIDAK BINASA

LUKAS 13 : 1 - 5

Oleh: Pdt. Refamati Gulo, M.Th.


Pendahuluan

Nama Minggu hari ini adalah Okuli artinya mataku tetap terarah kepada Tuhan (Mazmur 25:15a). Manusia telah jatuh dalam dosa. Dosa adalah pelanggaran terhadap perintah Tuhan. Oleh karena itu, kalau tidak bertobat maka akan binasa. Binasa adalah rusak sama sekali, hancur, musnah. Itulah sebabnya Paulus menegaskan bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23).

Injil Sinoptik menekankan bahwa dosa adalah penyakit yang berakar dalam diri Israel. Manusia pada dasarnya layak menerima murka Allah karena tidak memiliki kesalehan yang dituntut Tuhan. Dosa mereka harus menimbulkan ratapan, kerinduan, dan keinginan yang kuat akan kebenaran yang tidak mereka miliki. Manusia digambarkan secara metafora sebagai pohon yang tidak baik (pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik dan ditebang lalu dibuang ke dalam api). Kejahatan manusia tidak berarti bahwa manusia itu sangat jahat. Yesus berkata manusia itu jahat, tetapi pada saat yang sama Dia mengakui bahwa orangtua memberikan pemberian yang baik kepada anak-anak mereka (“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya”). Oleh sebab itu, apa yang di tuntut dari Israel adalah pertobatan “bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat”. Yesus tidak mencoret Israel dan para pemimpinnya, tetapi Dia menawarkan kesempatan kepada mereka untuk berbalik dari dosa dan menerima pengampunan. Yesus menekankan bahwa orang-orang yang tidak mau bertobat akan binasa (Luk. 13:3,5).

Peristiwa tragis sering kali mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Seperti kejadian di puncak gunung es Cartenz atau Carstensz Pyramid Papua Tengah Sabtu, 1 Maret 2025 yang menewaskan dua pendaki akibat cuaca buruk, hal ini menyadarkan kita bahwa kematian bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan. Kita tidak tahu kapan waktu kita menghadap Tuhan, tetapi satu hal yang pasti, kita harus selalu siap. Oleh karena itu, Yesus dalam Injil Lukas 13:1-5 menegaskan pentingnya pertobatan agar kita tidak binasa.

Pembahasan

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus menanggapi dua peristiwa yang menjadi pembicaraan pada waktu itu. Yang pertama (ay. 1) adalah pembantaian orang-orang Galilea oleh Pilatus, yang darahnya dicampurkan dengan darah kurban yang mereka persembahkan (beberapa peziarah Yahudi yang datang ke Yerusalem untuk perayaan Paskah telah dibantai oleh tentara Romawi di Bait Allah, ketika mereka menyembelih atau mempersembahkan kurban-kurban mereka). Yang kedua (ay. 4) adalah tragedi runtuhnya menara Siloam yang menewaskan delapan belas orang. Orang-orang saat itu berpikir bahwa mereka yang mengalami malapetaka pasti lebih berdosa daripada yang lain. Namun, Yesus menolak atau menentang kepercayaan ortodoksi Yahudi bahwa besarnya malapetaka yang diderita orang-orang ini yang memperlihatkan bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang luar biasa jahat dan Yesus menegaskan bahwa kematian tragis bukanlah bukti bahwa seseorang lebih berdosa dibandingkan orang lain (Lih. Ayt 2). Sebaliknya, Yesus menggunakan kedua peristiwa ini untuk mengingatkan bahwa setiap orang perlu bertobat, karena tanpa pertobatan, semua akan binasa.

Yesus dengan tegas berkata, “Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.” (Lukas 13:3, 5). Mengapa kata ini bisa keluar dari mulut Yesus? Apakah Yesus sedang memberikan ancaman bagi orang-orang Yerusalem waktu itu?. Seseorang bisa saja mengira Yesus saat itu sedang memberikan ancaman bagi orang-orang Yerusalem itu. Namun sebenarnya kata-kata Yesus ini tidak harus dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai peringataan. Ada perbedaan antara mengancam dan memperingatkan. Mengancam itu biasanya muncul karena kemarahan. Ancaman yang muncul merupakan luapan dari kemarahan. Peringatan biasanya muncul bukan karena kemarahan, melainkan perhatian dan kepedulian.

Pernyataan Yesus diatas bukan sekadar perintah dan peringatan, tetapi merupakan panggilan yang mendesak. Pertobatan tidak bisa ditunda karena dosa memisahkan kita dari Tuhan. Kematian bisa datang kapan saja, dan kita harus memastikan bahwa kita telah berdamai dengan Tuhan.

Lebih lanjut, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9). Dalam perumpamaan ini, seorang pemilik kebun datang mencari buah pada pohon ara, tetapi tidak menemukannya selama tiga tahun berturut-turut. Karena tidak berbuah, ia berencana untuk menebangnya. Namun, pengurus kebun meminta satu tahun lagi untuk merawatnya dengan lebih baik. Jika setelah itu pohon tetap tidak berbuah, barulah akan ditebang.

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk bertobat. Namun, kesempatan itu tidak akan ada selamanya. Sebagai orang percaya, kita harus menghasilkan buah pertobatan melalui kasih dan perbuatan baik bagi sesama. Hidup ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk memperbaiki diri dan semakin berkenan kepada-Nya. Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu yang Tuhan berikan.

Aplikasi

Tuhan memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bertobat dan menunjukkan bahwa ia benar-benar telah berubah. Kasih dan kesabaran-Nya terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali ke jalan yang benar. Dalam menghadapi berbagai peristiwa, termasuk malapetaka atau penderitaan yang menimpa orang lain, kita diajarkan untuk tidak serta-merta menghakimi bahwa itu adalah akibat dari dosa mereka. Sebaliknya, setiap kejadian dapat menjadi pengingat bagi diri sendiri untuk melakukan introspeksi, memperbaiki kesalahan, dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Dari setiap peristiwa, kita dapat mengambil hikmah, pembelajaran, serta memperkuat iman agar semakin bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Ada 3 poin penting dari renungan ini dan menjadi pelajaran penting dalam kehidupan Jemaat, yaitu:

1.   Pertobatan adalah kebutuhan mendesak

Tidak ada seorang pun yang tahu kapan hidupnya akan berakhir. Setiap detik yang berlalu adalah anugerah dari Tuhan, tetapi tidak ada jaminan bahwa kita masih memiliki waktu di hari esok. Tuhan, dalam kasih dan kesabaran-Nya, memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bertobat. Namun, kesempatan itu tidak akan selalu terbuka selamanya. Oleh karena itu, kita tidak boleh menunda-nunda pertobatan atau berpikir bahwa masih ada waktu di masa depan.

Setiap hari adalah kesempatan baru untuk berbalik kepada Tuhan, memperbaiki diri, dan meninggalkan segala dosa yang menjauhkan kita dari-Nya. Jangan menunggu sampai keadaan memaksa kita untuk berubah, karena sering kali kesempatan datang tanpa peringatan. Bertobat sekarang berarti memilih hidup yang lebih bermakna, penuh dengan kedamaian dan kasih Tuhan. Jika kita terus menunda, kita berisiko kehilangan kesempatan berharga yang Tuhan berikan. Sebab itu, marilah kita segera kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus sebelum semuanya terlambat.

 

2.   Jangan berpikir orang lain lebih berdosa

Dalam Lukas 13:1-5, Yesus mengajarkan bahwa musibah yang menimpa seseorang bukan selalu akibat dari dosanya, melainkan dapat menjadi peringatan bagi semua orang untuk bertobat. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh terburu-buru menghakimi orang lain ketika mereka mengalami penderitaan atau kesulitan.

Sering kali, manusia cenderung merasa lebih baik atau lebih benar dibandingkan orang lain. Namun, sikap seperti ini bisa membuat kita lupa untuk mengevaluasi diri sendiri. Tuhan menginginkan setiap orang untuk bercermin dan melihat sejauh mana hidupnya sudah selaras dengan kehendak-Nya. Setiap peristiwa dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, seharusnya menjadi kesempatan untuk introspeksi diri, bukan untuk membandingkan atau menghakimi orang lain.

Sebaliknya, kita harus memiliki hati yang penuh kasih, rendah hati, dan selalu siap membantu serta mendoakan sesama. Tuhan menghendaki pertobatan dari setiap orang, tanpa kecuali, karena setiap manusia membutuhkan kasih karunia-Nya. Dengan demikian, daripada berfokus pada kesalahan orang lain, lebih baik kita memperbaiki diri dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

 

3.   Buah pertobatan harus nampak dalam kehidupan

Pertobatan sejati bukan sekadar ucapan atau perasaan sesaat, tetapi harus tercermin dalam perubahan hidup yang nyata. Seseorang yang benar-benar bertobat akan menunjukkan perubahan dalam cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi dengan sesama. Ia tidak hanya menyesali dosa-dosanya, tetapi juga berkomitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Buah pertobatan terlihat dalam ketaatan kepada firman Tuhan dan usaha yang sungguh-sungguh untuk meninggalkan kebiasaan lama yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Ini berarti menjauhi dosa, mengembangkan karakter yang baik, serta hidup dengan kasih dan keadilan. Seperti pohon yang sehat menghasilkan buah yang baik, demikian pula hidup seseorang yang bertobat akan memancarkan kebaikan, kedamaian, dan kasih Tuhan bagi orang lain.

Pertobatan sejati juga melibatkan sikap rendah hati untuk terus bertumbuh dalam iman, memperbaiki kesalahan, dan bersedia dibentuk oleh Tuhan. Tanpa adanya perubahan nyata, pertobatan hanya menjadi sebatas kata-kata tanpa makna. Oleh karena itu, marilah kita membuktikan pertobatan kita melalui tindakan yang selaras dengan ajaran Kristus, sehingga hidup kita menjadi kesaksian yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Sinclair B. Ferguson, dalam bukunya Kehidupan Kristen, menyatakan bahwa jika seseorang benar-benar percaya kepada Kristus, ia harus bertobat. Dan jika ia telah bertobat dari dosa, maka pertobatan itu harus dilakukan dengan iman yang sungguh-sungguh. Pertobatan dan iman tidak dapat dipisahkan—pertobatan yang sejati lahir dari iman yang tulus kepada Kristus, sementara iman yang benar selalu disertai dengan perubahan hidup yang nyata. Selain itu, Ferguson mengutip Buku John Calvin “Institutes of the Christian Religion”,

“Pertobatan sejati adalah penyerahan sepenuhnya dari hidup kita kepada Allah. Penyerahan ini lahir dari rasa hormat dan takut yang murni serta tulus kepada-Nya. Pertobatan sejati tidak hanya sekadar mengakui dosa, tetapi juga melibatkan proses mematikan daging dan manusia lama, serta hidup dalam pembaruan yang merupakan karya Roh Kudus.”

Marilah kita mengambil waktu untuk merenungkan kehidupan kita. Sudahkah kita bertobat dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan? Jangan menunggu sampai terlambat, karena pertobatan adalah panggilan yang harus kita tanggapi sekarang juga. Tuhan masih memberikan kesempatan, tetapi kita tidak tahu sampai kapan. Bertobatlah, agar kita tidak binasa!

 

 

AMPUNI AKU TUHAN

Ampuni aku Tuhan

Dari sgala dosaku

Lepaskanlah semua ini

Derita yang kurasa

Kirimkan aku Tuhan

Malaikat penghibur hati

Agar tentram jiwaku ini

Tuk jalani hidupku

Reff:

Jadikan aku Tuhan

S’perti yang Kau mau

Bimbing setiap langkahku

Di jalan yang benar

Ajari aku Tuhan

Untuk mengasihi

Jadikanlah diriku

Orang yang berguna

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengasihi dan Mengikut Yesus Dengan Setia (Yohanes 21 : 15 - 19)

Kasih yang Mengikat (Kolose 3 : 14)

Setia dan Taat pada Panggilan (Kolose 3:23-24) Oleh: Pdt. Refamati Gulo, M.Th.