Menjadi Manusia Baru Di Dalam Kristus (Kolose 3:5-11)

 


Menjadi Manusia Baru Di Dalam Kristus
Kolose 3:1-11
Oleh: Pdt. Refamati Gulo, M.Th.


Pengantar

Dalam teologi Rasul Paulus, manusia baru adalah pribadi yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Ia adalah manusia yang, oleh anugerah Allah, menerima dan mempercayai karya penebusan Kristus, yang membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan membawa mereka menjadi anak-anak Allah. Realitas ini diwujudkan secara nyata dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus.

Melalui persatuan dengan Kristus, manusia yang sebelumnya hidup dalam dosa dan berada di bawah hukuman, kini mengalami perubahan status: dari yang terhukum menjadi dibenarkan, dari yang mati secara rohani menjadi hidup dalam Kristus. Dalam status baru ini, manusia tidak lagi menjadi milik dirinya sendiri, melainkan milik Allah sepenuhnya.

Sebagai ciptaan baru dalam Kristus (2 Korintus 5:17), manusia baru dipanggil untuk hidup dalam ketaatan, kekudusan, dan untuk memuliakan Allah dalam seluruh aspek kehidupannya. Hal ini sejalan dengan pengajaran Paulus dalam 1 Korintus 6:19–20, bahwa tubuh orang percaya adalah bait Roh Kudus dan oleh karena itu harus dipergunakan untuk kemuliaan Allah.

Isu-Isu Kehidupan Manusia Baru dalam Kristus di Era Kontemporer:

1.   Krisis Identitas dan Individualisme Radikal

Di tengah budaya yang menekankan otonomi diri, pencarian jati diri tanpa rujukan kepada Allah menjadi tantangan besar. Dalam konteks ini, identitas sebagai manusia baru yang berada "di dalam Kristus" (Efesus 2:10) seringkali dipinggirkan oleh identitas sosial, seksual (sexual  immorality), atau profesional yang dibentuk oleh dunia. Manusia baru didalam Kristus menegaskan bahwa identitas manusia hanya dapat ditemukan dalam persatuan dengan Kristus — bukan dari pencapaian pribadi atau pengakuan sosial.

 

2.   Konsumerisme dan Gaya Hidup Duniawi

Banyak orang Kristen hari ini hidup di bawah pengaruh nilai-nilai konsumerisme yang bertentangan dengan panggilan untuk menyangkal diri dan mengikut Kristus (Lukas 9:23). Sebagai manusia baru, orang percaya dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini (Roma 12:2), namun tantangan globalisasi dan digitalisasi membuat perbedaan antara hidup kudus dan hidup duniawi semakin kabur.

 

3.   Etika Digital dan Media Sosial

Era digital membawa tantangan etis baru bagi manusia baru. Bagaimana orang percaya menggunakan media sosial mencerminkan transformasi hidup mereka. manusia baru didalam Kristus menegaskan bawah, etika Kristen mengalir dari status pembenaran dan pembaruan oleh Roh Kudus — artinya, manusia baru pun harus hidup bijaksana, jujur, dan membangun sesama, bahkan dalam ruang digital.

 

4.   Pluralisme Religius dan Relativisme Moral

Dalam masyarakat pluralis, klaim eksklusif bahwa keselamatan hanya ada di dalam Kristus (Yohanes 14:6) seringkali dianggap intoleran. Manusia baru dipanggil untuk hidup dalam kasih, namun tetap teguh dalam kebenaran Injil. Tantangannya adalah bagaimana tetap menyuarakan kebenaran dengan kasih, dalam budaya yang mengagungkan toleransi tanpa kebenaran.

 

5.   Tekanan Hidup dan Kesehatan Mental

Banyak orang Kristen menghadapi stres, depresi, dan kecemasan akibat tekanan hidup modern. Dalam teologi tidak menjanjikan kehidupan bebas masalah, tetapi mengajarkan bahwa manusia baru memiliki pengharapan yang kokoh dalam Kristus — bahwa penderitaan saat ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan (Roma 8:18).

 

6.   Ketidaksesuaian antara Iman dan Perilaku

Dalam era kemunafikan digital, banyak orang mengaku Kristen namun hidupnya tidak mencerminkan pembaruan dalam Kristus. Manusia baru didalam Kristus menekankan pentingnya buah dari pertobatan sejati dan kesucian hidup sebagai bukti kelahiran baru. Tantangan zaman ini adalah menjaga keotentikan iman di tengah budaya performatif.

 Orang yang sungguh mengenal Yesus Kristus oleh anugerah Allah akan mengalami perubahan hidup yang nyata. Ia tidak lagi hidup menurut keinginan daging, tetapi diarahkan pada kehendak Allah. Dosa tetap menjadi musuh utama karena memisahkan manusia dari Allah, namun dalam Kristus, orang percaya dipanggil untuk mematikan perbuatan daging oleh kuasa Roh Kudus.

 Pertobatan sejati, yang juga anugerah Allah, mendorong seseorang meninggalkan hidup lama dan mengarahkan hati pada kehendak Allah dalam Kristus. Ini bukan karena tuntutan hukum, tetapi sebagai buah kasih karunia.

Rasul Paulus menasihati jemaat Kolose (Kol. 3:1–5) untuk hidup sesuai identitas baru dalam Kristus dengan mencari perkara surgawi. Ini berarti hidup dalam proses pengudusan terus-menerus, bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan oleh kuasa Roh Kudus.

Penjelasan Nats

1.        Ayat 5-6 - Mematikan Keinginan Duniawi sebagai Tindakan Menolak Penyembahan Berhala

Ayat ini tidak hanya menyerukan perubahan moral, tetapi menyentuh akar antitesis antara cara hidup orang percaya dan orang tidak percaya. Segala bentuk hawa nafsu dan keserakahan adalah manifestasi dari hati yang menolak Tuhan sebagai pusat hidup dan ini adalah penyembahan berhala. Dalam teologi, ini sejalan dengan doktrin Total Depravity, bahwa natur manusia yang jatuh tidak sekadar rusak sebagian, tapi menyeluruh. Maka, seruan untuk "mematikan" dosa menunjukkan bahwa hidup Kristen bukan pembenahan eksternal, melainkan transformasi radikal dari hati dan pikiran oleh karya Roh Kudus.

Kata “Matikanlah”di dalam ayat yang kelima berasal dari kata kerja  (nekrosate: Yunani) yang secara harfiah memang bernada kuat  dan  dapat  diartikan  “Membuat  mati”  atau  “Mematikan”.  Jadi,  semua  hal  yang didaftarkan Paulus di dalam ayat ini yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahanberhala, bukan hanya perlu ditekan atau dikendalikan, melainkan dihapuskan sepenuhnya dari kehidupan orang percaya.

Rasul Paulus menasehatkan bahwa sebagai manusia baru didalam Kristus haru mematikan, yaitu:

a.      Percabulan

Kata “Percabulan” dalam bahasa aslinya adalah porneian (Yunani), atau dalam bahasa Inggrisnya sexual immorality, yang memiliki arti “tunasusila, ketidaksopanan, pelanggaran susila, atau perzinahan.” Ini mencakup segala bentuk hubungan seksual di luar ikatan pernikahan yang sah menurut kehendak Allah. Dalam kehidupan orang percaya, percabulan adalah bentuk ketidaktaatan yang merusak hubungan dengan Allah dan sesama.

 

b.      Kenajisan

Kata “Kenajisan” berasal dari kata akatharsian, yang memiliki arti “kotoran, kenajisan, atau hal tidak bermoral.” Ini merujuk pada sikap atau pola pikir yang tidak murni, termasuk pikiran yang najis, kebiasaan buruk, dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan kekudusan Allah. Kenajisan bukan hanya soal tindakan, tapi juga menyangkut motivasi dan niat hati yang menyimpang.

 

c.       Hawa Nafsu

Dalam bahasa Yunani disebut pathos, yang berarti dorongan nafsu atau hasrat yang kuat dan tidak terkendali, terutama yang bersifat seksual. Hawa nafsu merupakan keinginan daging yang menjauhkan seseorang dari kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus. Orang percaya dipanggil untuk menyalibkan hawa nafsu dan hidup dalam kekudusan.

 

d.      Nafsu Jahat

Kata ini dalam bahasa Yunani disebut epithumian kaken, yang berarti keinginan jahat atau hasrat yang membara untuk melakukan sesuatu yang berdosa. Nafsu jahat bukan hanya menyangkut seksualitas, tetapi juga meliputi segala bentuk keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah, seperti iri hati, kebencian, dan dendam. Ini adalah bentuk keinginan batin yang harus dikendalikan dan dipadamkan.

 

e.      Keserakahan

Dalam bahasa Yunani disebut pleonexia, yang berarti “keinginan untuk memiliki lebih dari yang seharusnya,” dan sering kali dikaitkan dengan ketamakan terhadap harta atau kekuasaan. Rasul Paulus menambahkan bahwa keserakahan sama dengan penyembahan berhala, karena menempatkan keinginan duniawi di atas Tuhan. Keserakahan menunjukkan hati yang tidak puas dan tidak percaya kepada pemeliharaan Allah.

 

2.        Ayat 7-8 - Meninggalkan Gaya Hidup Lama sebagai Manifestasi Hidup Baru dalam Kristus

Ayat ini mengungkapkan adanya transformasi ontologis yaitu bukan sekadar tingkah laku, tetapi identitas baru dalam Kristus. artinya bahwa identitas seseorang di hadapan Allah berubah secara mutlak ketika ia menjadi ciptaan baru.

Kemarahan, fitnah, dan kata-kata kotor adalah ekspresi etika pemberontakan terhadap tatanan ilahi. Menurut Vantil bahwa etika tidak berdiri di ruang hampa. Semua nilai moral didasarkan pada sifat Allah. Oleh karena itu, ketika Paulus berkata "buanglah semuanya ini", ia tidak sedang menyerukan etika sosial humanistik, tetapi kesetiaan kepada Tuhan sebagai Raja. Ini adalah tindakan iman, bukan sekadar pilihan moral.

 

3.        Ayat 9-11 - Manusia Baru: Pembaruan Menurut Gambar Allah dan Kesatuan dalam Kristus

Bagian ini memuat antropologi yang dalam: manusia baru dicipta ulang menurut gambar Allah (imago Dei) dan diperbarui dalam pengetahuan yang benar (epignosis). Artinya bahwa pengetahuan sejati hanya mungkin melalui wahyu Allah, dan bukan melalui otonomi rasionalitas manusia. Maka, pembaruan dalam Kristus bukan hanya moral, tetapi epistemologis yaitu cara berpikir manusia dibarui agar sesuai dengan pikiran Allah.

Selain itu, kesatuan dalam Kristus (tanpa dikotomi budaya atau etnis) adalah bentuk dari kosmologi redemptif, di mana Kristus menyatukan ciptaan yang terpecah oleh dosa. Tidak ada orang Yunani atau Yahudi, karena semua direkonsiliasi dalam Kristus. Ini menegaskan bahwa kerajaan Allah adalah universal, bukan etnosentris.

 

4.        Ayat 12-17 - Hidup sebagai Umat Pilihan Allah: Etika Kasih dan Otoritas Firman dalam Komunitas Baru

Penutup bagian ini menyatakan bahwa semua tindakan etis dan kehidupan komunitas harus berakar dalam identitas sebagai "orang pilihan Allah". Artinya bahwa kita dikuduskan dan dikasihi bukan karena jasa kita, tetapi karena anugerah Allah semata. Maka, belas kasihan dan kasih bukanlah usaha untuk diterima, tetapi buah dari penerimaan Allah yang berdaulat.

Perkataan Kristus yang diam dengan segala kekayaannya menunjukkan bahwa otoritas Firman Allah adalah pusat dalam pembentukan karakter dan ibadah komunitas. artinya bahwa otoritas ini bukanlah eksternal tambahan, tetapi internal dan mendasar, karena Firman Allah adalah dasar dari segala pengetahuan dan kehidupan.

Aplikasi

1.        Menyerahkan Seluruh Area Hidup di Bawah Otoritas Kristus

Menjadi manusia baru bukan sekadar perubahan perilaku, tapi penyerahan total kepada Kristus sebagai Tuhan atas seluruh hidup—pikiran, keinginan, keputusan, dan nilai. Tidak ada aspek hidup yang netral; semua harus tunduk pada Kristus.

Evaluasi setiap bagian hidup: pekerjaan, hiburan, relasi, dan tujuan hidup. Tanyakan: “Apakah ini tunduk kepada Kristus? Apakah cara saya berpikir dan bertindak mencerminkan Firman Tuhan?”. Contoh konkrit: mengubah cara menggunakan media sosial, waktu luang, atau mengelola uang agar mencerminkan kasih, belas kasihan, dan kekudusan, bukan hanya untuk kepentingan diri.

 

2.        Mematikan Dosa Secara Aktif dan Terus-Menerus

Menjadi manusia baru melibatkan pertempuran terus-menerus melawan dosa. Buat kebiasaan untuk mengakui dosa setiap hari, bertobat dengan sungguh, dan menjauh dari sumber godaan. Gunakan sarana anugerah seperti doa, firman, dan persekutuan untuk memperkuat hati.

Contoh konkrit: Jika bergumul dengan amarah atau pornografi, ambil langkah konkret seperti konseling pastoral, accountability partner, atau membatasi akses ke pemicu.

 

3.        Hidup dalam Komunitas dengan Karakter Kristus

Manusia baru tidak hidup dalam isolasi, tapi dalam komunitas tubuh Kristus. Identitas baru dalam Kristus menghasilkan etika baru: kasih, pengampunan, kerendahan hati, dan pelayanan. Terlibat aktif dalam gereja lokal dan relasi antar orang percaya yang sehat. Tunjukkan kasih bukan hanya dalam kata-kata, tapi dalam tindakan nyata.

Contoh konkrit: Mengampuni sesama jemaat yang pernah menyakiti, membantu mereka yang kesulitan, atau melayani dalam bidang tertentu (musik, pengajaran, diakonia, dll).

 


TUHAN MEMBERKATI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengasihi dan Mengikut Yesus Dengan Setia (Yohanes 21 : 15 - 19)

Kasih yang Mengikat (Kolose 3 : 14)

Setia dan Taat pada Panggilan (Kolose 3:23-24) Oleh: Pdt. Refamati Gulo, M.Th.